Langsung ke konten utama

Seorang personel TNI menendang salah satu Aremania saat Tragedi Kanjuruhan

  Sumber foto Detikcom Malang - Video seorang personel TNI menendang salah satu Aremania saat Tragedi Kanjuruhan viral di media sosial. Aksi ini mendapat sorotan dari berbagai pihak. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman pun buka suara. Dudung mengatakan, personel yang melakukan tindakan kekerasan lebih sedikit dibanding yang berupaya membantu korban. "Justru lebih banyak yang menolong dan mengevakuasi (Korban tragedi Kanjuruhan) sampai ke RS itu rata-rata anggota kami," ujarnya kepada wartawan usai menjenguk korban Tragedi Kanjuruhan di RSSA Malang, Kamis (6/10/2022). Menurutnya, beberapa personel TNI yang melakukan tindakan kekerasan saat tragedi Kanjuruhan disebabkan karena terpancing emosi. Pihaknya juga telah melakukan penyelidikan terkait hal itu. Dudung juga menyampaikan, akan memberikan penghargaan kepada anggota TNI Batalion Zipur V yang telah membantu memberikan pertolongan korban saat tragedi Kanjuruhan. "Kami akan memberikan pengha...

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Meminta Tim Percepatan Penurunan Stunting Buat Laporan Evaluasi Secara Periodik

 


(MALANG) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meminta semua personel Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) untuk membuat laporan evaluasi dari “Program Percepatan Penurunan Stunting” tiap keluarga secara periodik.  “TPPS menjadi garda terdepan dan berperan penting dalam upaya penanggulangan stunting di desa-desa,” kata Plt Direktur Pelaporan dan Statistik BKKBN, Lina menuturkan bahwa sistem pelaporan TPPS harus dilakukan secara berjenjang. Proses laporan dan evaluasi harus tersusun rapi sejak berada di tingkat pemerintah desa yang kemudian disampaikan di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Pada tahap pelaporan di kecamatan dan kabupaten, nantinya laporan divalidasi dan petugas menyusun data menjadi laporan periodik, sebelum diberikan pada pemerintah di tingkat provinsi dan Bangda. Pelaporan diharapkan rutin dilakukan dua kali dalam setahun.


Menurut Lina, semua laporan harus bisa didapat dan disusun secara menyeluruh karena telah disesuaikan dengan tugas dari TPPS, yakni menjadi pihak yang akan mengkoordinasikan, mensinergikan dan mengevaluasi penyelenggaraan percepatan penurunan stunting di masing-masing daerah tempatnya bertugas.


BKKBN telah menyebarkan TPPS di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga desa.


Ia juga mengapresiasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berhasil menurunkan angka kekerdilan pada anak (stunting) di beberapa wilayah, yakni Sumbawa Barat turun 19,1 persen, Lombok Tengah turun 13,2 persen, Dompu turun 10 persen, Kota Bima dan Kabupaten Bima turun 9,9 persen, Lombok Barat dan Lombok Utara turun 7,4 persen, Kota Mataram turun 3,3 persen dan Lombok Timur turun dua persen.


“Terima kasih karena di Provinsi NTB telah terbentuk TPPS di seluruh kabupaten/kota. Pencapaian penurunan stunting di NTB juga luar biasa. Bahkan, Sumbawa Barat berhasil menurunkan angka stunting hingga 19,1 persen,” kata Lina.

Sebagai salah satu provinsi prioritas penurunan stunting, Kepala Bappeda Provinsi NTB Iswandi mengatakan kolaborasi semua pihak menjadi hal yang sangat dibutuhkan di daerahnya agar angka stunting turun.


Dirinya optimis pemerintah Provinsi NTB dapat bekerja sama dan saling berkoordinasi menciptakan sumber daya manusia unggul dengan mencegah anak terkena stunting.


“Percepatan penurunan stunting juga membutuhkan ketersediaan data yang akurat untuk perencanaan dan implementasi arah kebijakan penanganan stunting di NTB dengan harapan dapat mengembangkan sistem monitoring, evaluasi, dan pembelajaran penanganan stunting,” kata Iswandi.

Editor: Snowy Ramadhani 

Komentar