Langsung ke konten utama

Seorang personel TNI menendang salah satu Aremania saat Tragedi Kanjuruhan

  Sumber foto Detikcom Malang - Video seorang personel TNI menendang salah satu Aremania saat Tragedi Kanjuruhan viral di media sosial. Aksi ini mendapat sorotan dari berbagai pihak. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman pun buka suara. Dudung mengatakan, personel yang melakukan tindakan kekerasan lebih sedikit dibanding yang berupaya membantu korban. "Justru lebih banyak yang menolong dan mengevakuasi (Korban tragedi Kanjuruhan) sampai ke RS itu rata-rata anggota kami," ujarnya kepada wartawan usai menjenguk korban Tragedi Kanjuruhan di RSSA Malang, Kamis (6/10/2022). Menurutnya, beberapa personel TNI yang melakukan tindakan kekerasan saat tragedi Kanjuruhan disebabkan karena terpancing emosi. Pihaknya juga telah melakukan penyelidikan terkait hal itu. Dudung juga menyampaikan, akan memberikan penghargaan kepada anggota TNI Batalion Zipur V yang telah membantu memberikan pertolongan korban saat tragedi Kanjuruhan. "Kami akan memberikan pengha...

Bocah Tasikmalaya Meninggal Usai Dipaksa Setubuhi Kucing Uu Ruzhanul: Candaan Itu, Biasa lah


 (JABAR, MALANGNET) - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menanggapi kasus kematian seorang anak di Tasikmalaya yang diduga diakibatkan oleh perundungan sebaya.


Uu Ruzhanul tak yakin bila korban benar-benar menyetubuhi kucing setelah melihat video saat kejadian.



"Saya lihat video ya gak mungkin apalagi anak kecil, dan biar lebih jelas 'itu' juga gak bangun, secara kasat mata di video tidak ada persetubuhan," kata Uu di Kantor KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu 23 Juli 2022.

Selain itu, terkait dugaan depresi, Uu menyebut hanya pihak berwenanglah yang berhak mendiagnosis penyebab kematian si anak.

Sebab menurutnya pemicu sang korban meninggal dunia bisa saja didorong faktor komorbid (penyakit penyerta).


"Sebelum ada temuan dari pihak aparat penyebab kematian, depresi atau apa kita jangan berandai-andai karena dari KPAID tidak ada kepastian bahwa itu depresi, siapa tahu ada penyebab lain komorbid lain, tapi sekarang beredar seperti itu hanya asusmsi masyarakat," katanya.


Bagi Uu bercanda sesama teman sebaya adalah hal yang wajar, dia justru mengira ada oknum lain yang memanfaatkan anak-anak tersebut untuk membuat sebuah konten.


"Candaan seperti itu. Biasa lah itu, karena sekarang ada medsos dan diviralkan sekarang mungkin itu," katanya.

"Saya lihat ada hal dimanfaatkan oleh orang lain, di awal video ada pembukaannya, pembukaan seperti itu, paling yang harus dikejar adalah mereka yang menyebarkan hal seperti itu," ujarnya.


Oleh karena itu dia berharap agar publik tak lagi mendesak agar pelaku dibawa ke meja hijau mengingat usianya yang masih kecil.


"Harapan kami setelah islah tidak ada mengarah ke meja hijau sampai ada pemanggilan dari pihak korban dan saksi, tapi itu sah saja, tapi lihat korban keluarga korban yang tidak akan menuntut dengan kesolehan seperti itu saya merasa bangga," ucapnya.

Melihat keluarga korban yang telah memaafkan, Uu juga mengajak masyarakat agar tak memperpanjang urusan ini ke ranah hukum.

"Harapan kami sekalipun terjadi masalah seperti itu diharapkan tidak dilanjutkan, karena anak kecil, memang ada lapas anak kecil, ini dampak keluarga sudah islah bisa saja merasa yang awal bersalah jadi nambah apalagi dalam islam ada apuh, ada maaf insyaallah," tuturnya.

Editor: Tim Malangnet Jabar

Komentar